Tuesday, February 15, 2022

ALAT TANGKAP IKAN RAMAH LINGKUNGAN

 

ALAT TANGKAP IKAN RAMAH LINGKUNGAN



Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan di Kec. Blang Mangat bermacam-macam jenisnya. Pada pertemuan ini penyuluh akan menjelaskan jenis alat tangkap ramah lingkungan, berikut penjelasannya. Alat penagkap ikan digunakan untuk membantu aktivitas nelayan saat melaut. Ada banyak jenis alat penangkap ikan yang digunakan  nelayan.  Agar lingkungan dan keberlanjutan wilayah perairan serta habitat tetap terjaga, nelayan membutuhkan alat penangkap ikan yang ramah lingkungan. Dirangkum dari berbagai sumber, Kementerian Kelautan dan perikanan (KKP) dengan mengacu pada Badan pangan dan pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), berikut jenis alat penangkap ikan yang ramah lingkungan:

1.     Jaring insang (gillnet and entangling nets)

Jaring insang merupakan alat penangkap ikan berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran mata jaring merata. Alat penangkap ikan ini dilengkapi pelampung, pemberat, tali ris atas dan tali ris bawah atau tanpa tali ris bawah. Jaring insang digunakan untuk menangkap ikan dengan cara menghadang gerombolan ikan. Ikan- ikan yang tertangkap pada jaring umumnya karena terjerat di bagian belakang penutup insang atau terjerat mata jaring.

2.   Pancing (hook and Line)

Alat penangkap  ikan  ini digunakan untuk memancing ikan target sehingga terkait  mata pancing yang dirangkai dengan tali menggunakan atau tanpa umpan. Alat penangkap ikan yang termasuk dalam klasifikasi ini, yaitu rawai (long line) dan pancing itu sendiri.

3.     Alat yang dijatuhkan (falling gears)

Alat yang dijatuhkan atau ditebarkanmerupakan alat penangkap ikan yang pengoperasiannya dilakukan dengan ditebarkan atau dijatuhkan untuk mengurung ikan dengan atau tanpa kapal.

4.   Perangkap (traps)

Alat penangkap ikan jenis ini terdiri dari berbagai bentuk dan material. Ada yang terbuat dari jaring, bambu, kayu dan besi. Perangkap bisa dipasang secara tetap atau secara portable (dapat dipindahkan) selama jangka waktu tertentu. Biasanya perangkap  digunakan  di  pesisir pantai untuk menangkap ikan demersal dan kerang.

5.   Penggaruk (dredges)

Penggaruk  merupakan  alat penangkap ikan berbingkai kayu atau besi bergerigi. Terdapat berbagai bentuk dan ukuran alat jenis ini. Desain dan konstruksi penggaruk disesuaikan    dengan    target    ikan tangkapan yang diinginkan. Alat ini ada yang dilengkapi atau tanpa jaring/bahan lainnya.

Penggaruk dioperasikan dengan cara menggaruk di dasar perairan dengan atau tanpa perahu. Alat tangkap ini biasa digunakan di perairan dangkal yang tidak jauh dari pesisir. Penggaruk  biasanya  menyasar kerang.

6.   Jaring lingkar (surrounding nets)

Pengoperasian jaring lingkar dengan cara menghadang arah renang ikan. Alat ini ditujukan sebagai penangkap ikan pelagis yang bergerombol di permukaan. Ikan pelagis adalah ikan yang hidup di permukaan dengan kedalaman kurang dari 200 meter.

7.   Jaring angkat (lift nets)

Jaring angkat adalah alat penangkap ikan berbentuk lembaran persegi panjang atau bujur sangkar yang direntangkan dengan menggunakn kerangka dari batang kayu atau bambu. Alat penangkap ikan ini dioperasikan   dengan    menurunkan dan mengangkatnya secara vertikal. Jaring  ini  menyasar  ikan  jenis pelagis dan cumi-cumi.

8.  Alat penjepit dan melukai (grappling and wounding)

Pengoperasian alat ini dengan cara mencengkeram, menjepit, melukai dan atau membunuh sasaran tangkap. Contoh dari alat penangkap ikan ini antara  lain  adalah  tombak  dan ladung.

Perserikatan Bangsa Bangsa yang menangani  masalah  pangan  dan pertanian dunia), pada tahun 1995 mengeluarkan suatu tata cara bagi kegiatan penangkapan ikan yang bertanggung jawab (Code of Conduct for Resposible Fisheries- CCRF). Dalam CCRF ini, FAO menetapkan serangkaian kriteria bagi teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan. Sembilan kriteria tersebut      adalah      sebagai      berikut:

1.   Alat   tangkap   harus   memiliki selektivitas yang tinggi

2.   Alat   tangkap   yang   digunakan tidak   merusak   habitat,   tempat tinggal   dan   berkembang   biak ikan dan organisme lainnya

3.   Tidak   membahayakan   nelayan (penangkap ikan)

4.   Menghasilkan ikan yang bermutu baik

5.   Produk    tidak    membahayakan kesehatan konsumen

6.   Hasil  tangkapan  yang  terbuang minimum

7.   Alat   tangkap   yang   digunakan harus      memberikan      dampak minimum terhadap keanekaan sumberdaya hayati (biodiversity) Tidak menangkap jenis yang dilindungi undang-undang atau terancam punah

Friday, February 11, 2022

PEMANFAATAN PROBIOTIK PADA BUDIDAYA IKAN

 


Permasalahan lingkungan dalam kegiatan usaha budidaya ikan belum mendapat perhatian. Upaya peningkatan produksi baik melalui kepadatan ikan yang dibarengi penerapan teknologi, dukungan saprodi serta pemberian pakan buatan terus digalakan. Dampak atas perkembangan tersebut akan berakibat penurunan daya dukung lingkungan budidaya. Pembukaan lahan untuk budidaya ikan telah mengabaikan konsep ekosistim dan keseimbangan. Penggunaan bahan kimia dan antibiotik sebagai langkah pengobatan atas serangkaian wabah penyakit juga memunculkan masalah baru dalam budidaya. Aplikasi Bahan Kimia pada dosis yang tidak tepat dapat mematikan biota lain yang pada hakekatnya turut menjaga keseimbangan ekosistim di kolam. Penggunaan Probiotik  merupkan sebagai salah satu upaya untuk memperbaiki lingkungan budidaya dan dapat menekan penyakit. Hingga sekarang, probiotik belum adanya efek samping yang merugikan akibat penggunaan probiotik tersebut.

Probiotik adalah mikroba yang menguntungkan bagi ikan yang dibudidayakan.  Mikroba itu antara lain bakteri asam laktat seperti Lactobacillus, Carnobacterium, beberapa kelompok Bacillus, dan Pseudomonas. Bakteri berfungsi menguraikan sisa pakan, senyawa organic dari pakan yang terlarut, dan kotoran ikan.Sampah-sampah itu dapat mengotori air dan menjadi tempat tumbuh bakteri pathogen, jamur atau mikroba jahat, dan menyebabkan ikan mudah terserang penyakit

Berbagai Produk Probiotik utk aplikasi perikanan telah banyak dipasarkan dgn berbagai variasi penggunaannya, Namun secara mendasar model kerja probiotik dapat dikelompokan menjadi 3 yaitu : 1) menekan populasi mikroba melalui kompetisi dgn memproduksi senyawa2 antimikroba atau melalui kompetisi nutrisi; 2) merubah metabolisme mikrobial dgn meningkatkan atau menurunkan aktifitas enzim pengurai (selulase, protease, amilase, dll), dan 3) menstimulasi imunitas melalui peningkatan kadar antibody organisme akuatik.

Aplikasi Beberapa Jenis Probiotik

1.  Probiotik Jenis Pro Satu – P

Merupakan produk probiotik premium berbentuk powder yang berfungsi sbg BIOREMEDIATOR yang khusus diciptakan untuk komoditas perikanan. BIOREMEDIATOR  adalah : proses pemulihan kondisi lahan dengan menggunakan bakteri. Pengolahan tanah dan air yg baik dgn melibatkan bioremediator akan dapat memodifikasi lingkungan menjadi lebih baik dan sesuai utk ikan yang dipelihara. Prosedur  penggunaan  probiotik  prosatu-P bisa diterapkan pada: 1) budidaya ikan KJA/keramba penggunaan Prosatu-P dpt diberikan melalui campuran pakan dengan perbandingan 1 gram powder Prosatu-P dicampurkan dengan 1 Kg pakan, dan  2) pada Kolam, aplikasi penggunaannya sebagai berikut : campuran pakan sebagai vitamin dgn perbandingan 1 gr Prosatu-P dicampurkan 1 Kg pakan, menurunkan pathogen  aplikasi penggunaannya adalah 5-10 kg   prosatu-P per 0,5 Ha kedalaman air 1 m dgn interval 3 hari, dan membersihkan air/bioremediator (memodifikasi lingkungan menjadi lebih baik dan sesuai bagi ikan yg dipelihara) dengan aplikasi penggunaannya adalah 5 Kg Prosatu-P per 0,5 ha, kedalaman air 1 m dengan interval 5 hari. Secara umum aplikasi penggunaan Prosatu-P pd BD ikan di kolam sebagai berikut, Prosatu-P dipakai secara berkelanjutan mulai tahap persiapan kolam sampai panen. Pemakaian setiap 5-7hari apabila kondisi air buruk, dapat ditingkatkan setiap 3-4 hari. Prosatu-P dapat dilarutkan denga air bersih secukupnya, kemudian ditebarkan ke kolam dan tidak perlu dikultur dengan dosis 1ppm/5 hari. Contoh : luas kolam 100m2, kedalaman 1 m, perlu probiotik sebanyak 100 gr. Klam lele luas 20m2 kedalaman 60 cm, perlu 12 gr.

 

2.  Produk Boster (planktop dan multiselp)

Pengalaman pada waktu program wirausaha budidaya lele dengan sistim terpal, penggunanan priduk boster pada lembaran terpal untuk kolam dipasang dan diisi air dengan ketinggian + 40 Cm. Larutkan/encerkan masing-masing Planktop/Multiselp dalam ember Volume 12 Lt yang sudah berisi air biasa  sebanyak 250 cc/0,5 are, dan tebarkan masing-masing  planktop dan multiselp secara merata dipermukaan air pada kolam terpal. Diamkan/tunggu air kolam sampai berwarna hijau, biasanya 2-3 hari tergantung sinar matahari yang masuk di kolam terpal. Setelah airnya berwarna hijau, dan sudah tumbuh zooplankton/jentik-jentik, selanjutnya tebarkan benih lele sesuai kepadatan yang dianjurkan. Selang waktu 7 hari (1Mgg) berikutnya, tambahkan planktop/multiselp dengan dosis 50 cc, cara pemberian sama seperti no. 2 diatas. Setelah benih berumur 14 hari (2 Mgg), tambahkan air kolam setinggi 80-100 Cm dan tambahkan lagi planktop/multiselp dengan dosis 100 cc.  Pemberian selanjutnya, sampai lele panen diberikan setiap minggu cukup dengan dosis 50 cc saja. Bila perlu karena airnya pekat/keruh, agar dibuang air dasar kolam dengan sistim siphon +  20 -30%. Limbah air ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik, baik utk tanaman maupun tumbuh2an lainnya

 Kesimpulan

• Teknologi Probiotik mrpkan teknologi pilihan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

•    Probiotik dpt digunakan sbg alternatif antibiotik

•  Dgn aplikasi probiotik penggunaan air dpt ditekan shg ketergantungan thd air yg bersumber dari luar dapat diperkecil

•  Probiotik tidak saja dpt memperbaiki lingkungan dan menetralkan senyawa metabolite toxik spt : Ammonia, Nitrit dan H2S, tetapi juga dpt menekan bakteri merugikan dan meningkatkan kekenalan ikan.

•  Disamping itu Probiotik dpt meningkatkan SR, memperbaiki FCR, sbg makanan alami dan meningkatkan produksi.

Tuesday, February 8, 2022

BUKU ADMINISTRASI KELOMPOK PERIKANAN

 


Buku administrasi kelompok adalah buku pencatatan segala sesuatu yang ada kaitannya dengan keadaan dan perkembangan kelompok. Kesan pertama yang terlihat pada suatu  kelompok pelaku utama  yang baik, adalah pengelolaan admnistrasi yang tertib dan benar. Sehingga kemampuan kelompok dalam melaksanakan administrasi dengan baik perlu dibina terus sampai mereka terbiasa melakukannya.

Kegunaan administrasi kelompok antara lain adalah: (a) Sebagai alat kontrol; (b) Sebagai alat dokumentasi; (c) Sebagai alat/bahan pengambilan keputusan; (d) Sebagai alat monitirong/evaluasi kelompok; (e) Sebagai alat memupuk kepercayaan anggota; (f) Sebagai alat ukur keberadaan kegiatan kelompok; dan (g) Sebagai alat ukur pengembangan kelas kelompok. Beberapa jenis buku administrasi yang sebaiknya dimiliki oleh kelompok, yakni:

1.1.  Buku Data Anggota Kelompok

Buku Data Anggota Kelompok adalah buku yang berisi tentang semua informasi mengenai anggota kelompok, termasuk mata pencaharian utamanya serta kepemilihan sarana prasarana dan/atau lahan usahanya.

Manfaat Buku Data Anggota Kelompok antara lain adalah: (1) menggambarkan potensi sumberdaya di dalam kelompok; dan (2) memudahkan tim pembina dan pihak lain dalam mempelajari potensi sumber daya manusia kelompok.

Contoh Format Buku Data Anggota Kelompok:

 

 

1.2.  Buku Tamu Kelompok

Buku Data Tamu Kelompok adalah buku yang berisi tentang data-data tamu yang mengunjungi kelompok, baik sifatnya formal, non formal maupun informal.

Manfaat Buku Tamu Kelompok, antara lain adalah: (1) mengetahui siapa, darimana dan tujuan apa dan kapan tamu yang mengunjungi kelompok;  (2) membenahi dan mengoreksi kekurangan kelompok dari saran dan kesan yang ditulis tamu guna kemajuan kelompok; dan (3) mempermudah pencarian kontak person kepada tamu kelompok, jika dikemudian hari ternyata diperlukan.

Contoh Format Buku Tamu Kelompok:


1.3.  Buku Rencana Kegiatan Kelompok

Buku Rencana Kegiatan Kelompok adalah buku yang berisi tentang: (1) Apa yang akan dilakukan atau apa yang hendak dilakukan? (2) Bagaimana melaksanakannya atau apa yang harus dikerjakan? (3) Kapan melaksanakannya? (4) Siapa anggota kelompok yang akan melakukannya? (5) Berapa besar usaha yang akan dilakukan?

Manfaat Buku Rencana Kegiatan Kelompok, antara lain adalah: (1) Dipakai sebagai alat koordinasi; (2) Dapat memberikan “kepastian” mengenai masa depan atau membatasi “ketidakpastian”; (3) Tersedianya alat ukur terhadap prestasi  yang akan dicapai dan alat pengendalian (control) jalannya kegiatan kelompok; (4) Peningkatan produktifitas (efektifitas dan efisiensi) karena memfokuskan pada sasaran; dan (5) Terbentuknya kerja sama, dukungan dan peran serta anggota kelompok.

Contoh Format Buku Rencana Kegiatan Kelompok:


1.4.  Buku Pola Tebar/Produksi Kelompok

Buku Pola Tebar/Produksi Kelompok adalah buku yang berisi tentang data-data waktu penebaran benih/induk dan estimasi panennya dalam periode waktu tertentu. Manfaat Buku Pola Tebar/ Produksi Kelompok adalah untuk mengetahui pola usaha kelompok dan perkiraan panen/produksi/penjualan.

Contoh Format Buku Pola Tebar/Produksi Kelompok:



1.5.  Buku Agenda Surat Kelompok

Buku Agenda Surat Kelompok adalah buku yang berisi tentang datasurat-surat yang masuk atau surat-surat yang dikeluarkan oleh kelompok dalam periode waktu tertentu. Manfaat Buku Agenda SuratKelompok adalah: (1)untuk mengetahui arus surat masuk dan keluar; (2) mempermudah pengarsipan dan penelusuran tindak lanjut surat.

Contoh Format Buku Agenda Surat Kelompok:

 

1.6.  Buku Inventaris Barang/Alat Kelompok

Buku Inventaris Barang/Alat Kelompok adalah buku yang berisi tentang data-data barang/alat yang menjadi inventaris kelompok dan/atau barang yang dibeli bersama oleh anggota kelompok. Manfaat Inventaris Barang/AlatKelompok adalah:(1) untuk mendata barang/alat yang dimiliki oleh kelompok; (2) memudahkan pengelolaan barang/alat yang dimiliki kelompok; dan (3) memudahkan penelusuran kepemilikan barang/alat yang ada dalam kelompok.

Contoh Format Buku Inventaris Barang/Alat Kelompok:


1.7.  Buku Daftar Hadir Pertemuan Kelompok

Buku Daftar Hadir Pertemuan Kelompok adalah nama dan tanda tangan anggota yang hadir pada rapat/pertemuan/kegiatan kelompok. Manfaat Daftar Hadir PertemuanKelompok adalah:(1) untuk mengetahui tingkatkeaktifan anggota dalam kegiatan-kegiatan kelompok; (2) sebagai data penguat keputusan yang diambil sewaktu rapat/pertemuan.

Contoh Format Buku Daftar Hadir Pertemuan Kelompok:


1.8.  Buku Notulen Rapat/Pertemuan Kelompok

Buku Notulen Rapat/Pertemuan Kelompok adalah buku catatan atas segala sesuatu yang terjadi dalam rapat/pertemuan kelompok; termasuk didalamnya kesimpulan/keputusan yang diambil pada saat kegiatan tersebut. Manfaat Notulen Rapat/Pertemuan Kelompok adalah:(1) Sebagai catatan pembahasan kegiatan rapat/pertemuan kelompok baik yang telah dilaksanakan maupun rencana tindaklanjut; (2) memudahkan dalam pembahasan masalah dan pemecahan masalah baik di lapangan maupun dalam kelompok.

Contoh Format Notulen Rapat/Pertemuan Kelompok:

 

1.9.  Buku Kas Kelompok

Buku Kas Kelompok adalah buku catatan transaksitunai dan transaksi bankdarikelompok. Manfaat Buku Kas Kelompok adalah: mendata keluar masuk dan saldo keadaan keuangan kelompok.

Contoh Format Buku Kas Kelompok:


1.10.   Buku Tabungan/Iuran Kelompok

Buku  Tabungan/Iuran Kelompok adalah catatan pemasukan kas kelompok yang berasal dari iuran wajib, iuran sukarela, tabungan wajib dan tabungan sukarela anggota masing-masing anggota kelompok. Manfaat Buku Tabungan/IuranKelompok adalah: (1) mendata keluar masuk dan saldo keadaan keuangan kelompok; (2) mengetahui jumlah iuran dan tabungan setiap bulan dan setiap tahunnya; dan (3) memudahkan pelacakan status iuran dan tabungan anggota kelompok .

Contoh Format Buku Tabungan/Iuran Kelompok:

                                                            Bulan: ..................


1.11.   Buku Pinjaman Anggota Kelompok

Buku  Pinjaman Anggota Kelompok adalah catatan terhadap semua informasi pinjaman yang diberikan pada anggota, secara individu (termasuk masalah pinjaman, tujuan pinjaman, jadwal pengembalian bunga, pengembalian pinjaman, hutang yang belum lunas dan melampaui batas waktunya. Manfaat Buku Pinjaman Anggota Kelompok adalah menginventarisir besaran pinjaman anggota kelompok serta pengembalian pinjaman anggota kelompok.

Contoh Format Buku Pinjaman Anggota Kelompok:


Friday, February 4, 2022

Peran dan Fungsi Kelompok Perikanan

 


Kelompok pelaku usaha bidang perikanan dapat memiliki peranan antara lain sebagai berikut:

  1. Sebagai  media komunikasi dan pergaulan sosial  yang wajar, lestari  dan dinamis.
  2. Sebagai basis untuk mencapai pembaharuan secara merata.
  3. Sebagai pemersatu aspirasi yang murni dan sehat.         
  4. Sebagai wadah yang efektif dan efisien untuk belajar serta bekerja sama
  5. Sebagai teladan bagi masyarakat lainnya.

Untuk dapat mewujudkan peranan tersebut maka kelompok memiliki berfungsi antara lain sebagai: (a) kelas  belajar; (b) wadah kerja  sama; (c) unit  produksi;  (d) organisasi  kegiatan  bersama; dan (e) kesatuan  swadaya  dan  swadana. Berikut ini adalah fungsi kelompok perikanan yang wajib diketahui oleh palaku usaha perikanan itu sendiri, yakni:

A.   Fungsi Kelompok Sebagai  Kelas  Belajar

Sebagai kelas belajar, kelompok merupakan media interaksi belajar antar pelaku utama atau pelaku usaha perikanan. Mereka dapat melakukan proses interaksi edukatif dalam rangka mengadopsi inovasi. Mereka dapat saling Asah, Asih dan Asuh dalam menyerap suatu informasi dari fasilitator, mediator, pemandu, pendamping, penyuluh dan pihak lain. Mereka akan dapat mengambil kesepakatan tindakan bersama apa yang akan diambil dari hasil belajar tersebut. Dengan demikian proses kemandirian kelompok akan dapat dicapai. Di dalam kelompok sebagai kelas belajar para pelaku utama atau pelaku usaha perikanan akan dapat melakukan komunikasi multi dimensional. Mereka dapat mempertukarkan pengalaman masing-masing, sehingga akan membuat pelaku utama atau pelaku usaha perikanan semakin dewasa untuk dapat keluar dari masalahnya sendiri, tanpa adanya ketergantungan pada petugas (pendamping, penyuluh dan lain-lain).

B.   Fungsi Kelompok Sebagai  Wadah Kerja  Sama

Sebagai wadah kerja  sama, kelompok pelaku utama atau pelaku usaha perikanan merupakan cerminan dari keberadaan suatu wadah kerjasama.

C.   Fungsi Sebagai Unit Produksi

Kelompok pelaku usaha perikanan sebagai unit produksi, erat hubungan dengan wadah kerja sama misalnya dengan melaksanakan kegiatan secara bersama–sama dapat dicapai efisiensi yang lebih tinggi misalnya: dalam pengadaan sarana produksi, perkreditan, dan pemasaran hasil. Oleh karena itu dengan fungsi kelompok sebagai unit produksi akan dapat dicapai skala ekonomis usaha yang dapat memberikan keuntungan yang lebih besar kepada para pelaku usaha perikanan.

D.   Fungsi Kelompok Sebagai  Organisasi Kegiatan Bersama

Dengan berkelompok maka pelaku usaha perikanan akan belajar mengorganisasi kegiatan bersama-sama, yaitu membagi pekerjaan dan mengkoordinisasi pekerjaan dengan mengikuti tata tertib sebagai hasil kesepakatan mereka. Mereka belajar membagi peranan dan melakukan peranan tersebut. Mereka belajar bertindak atas nama kelompok yang kompak, yaitu setiap anggota merasa memiliki komitmen terhadap kelompoknya. Mereka merasa "In Group" yaitu mengembangkan "ke-kitaan bukan  ke-kamian". Dengan demikian akan merasa bangga sebagai suatu kelompok yang terorganisasi secara baik, dibandingkan berbuat sendiri-sendiri.

E.   Fungsi Kelompok Sebagai Kesatuan Swadaya dan Swadana                    

Kelompok pelaku usaha perikanan adalah kumpulan pelaku utama atau pelaku usaha perikanan yang mempunyai hubungan atau interaksi yang nyata, mempunyai daya tahan dan struktur tertentu, berpartisipasi bersama dalam suatu kegiatan. Hal ini tidak  akan dapat terwujud tanpa adanya kesatuan kelompok tersebut. Pelaku usaha perikanan diharapkan dapat  mandiri dalam arti mampu merumuskan masalah, mengambil keputusan, merencanakan, melaksanakan kegiatan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Tumbuhnya kemandirian tersebut diharapkan dapat dilakukan melalui kelompok.

 

Tumbuh dan berkembangnya kelompok-kelompok dalam masyarakat, umumnya didasarkan atas adanya kepentingan dan tujuan bersama, sedangkan kekompakan kelompok tersebut tergantung pada faktor pengikat yang dapat meningkatkan keakraban individu-individu yang menjadi anggota kelompok. Pelaku utama atau pelaku usaha perikanan diharapkan dapat  mandiri dalam arti mampu merumuskan masalah, mengambil keputusan, merencanakan, melaksanakan kegiatan dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Tumbuhnya kemandirian tersebut diharapkan dapat dilakukan melalui kelompok. Pengembangan kelompok diarahkan pada peningkatan kemampuan kelompok dalam melaksanakan fungsinya, peningkatan kemampuan para anggota dalam mengembangkan usaha perikanan, penguatan kelompok menjadi organisasi kelompok yang kuat dan mandir.