Showing posts with label budidaya. Show all posts
Showing posts with label budidaya. Show all posts

Saturday, October 8, 2022

BUDIDAYA KERANG HIJAU




        Kerang hijau merupakan salah satu komoditi perikanan yang sudah lama dikenal sebagai sumber protein hewani yang relatif murah, selain kerang bulu dan kerang darah.  Harga daging kerang hijau di pasaran sekitar Rp. 15.000,- /kg dengan kandungan gizi antara lain : protein 18,3%, karbohidrat 2%, lemak, 0,45%, air 78%, dan beberapa mineral yaitu kalsium 133 mg dan fosfor 170 mg.   Kerang hijau hidup pada perairan payau sampai asin yang memiliki sifat menempel pada benda-benda yang ada di sekitarnya.  Kerang hijau yang baik memiliki daging berwarna kuning kecoklatan, sedangkan  ciri khas dari kerang hijau yang masih hidup adalah  akan segera menutupkan kedua cangkangnya apabila disentuh.
Budidaya kerang hijau telah banyak dilakukan pada wilayah Kecamatan Cilincing Jakarta Utara, Kabupaten Cirebon Propinsi Jawa Barat dan Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang Propinsi Banten. Pada saat musim, produksi kerang hijau di Kecamatan Cilincing  dapat mencapai 240 ton per hari, sedangkan pada hari biasa produksinya mencapai 54 ton per hari. Di Kabupaten Cirebon, menurut data Dinas Perikanan dan Kelautan  Kabupaten Cirebon bahwa produksi kerang mengalami peningkatan sekitar 3,88 %  dari 9.644 ton pada tahun 2004 menjadi 10.032 ton pada tahun 2006.
Kecamatan Panimbang merupakan salah satu lokasi budidaya kerang hijau yang potensial karena di wilayah tersebut perairan masih belum tercemar oleh limbah industri dan relatif aman dari angin barat yang merupakan kendala utama dalam budidaya kerang. Luas areal budidaya kerang hijau di Kecamatan Panimbang ± 100 ha dengan jumlah bagan ± 50 unit. Kerang hijau dapat dibudidayakan selama 6 bulan, mulai dari penempelan benih sampai dengan panen. Di Kecamatan Panimbang, budidaya kerang hijau dimulai pada tahun 2003 yang terbagi menjadi 3 lokasi yaitu Cipaton, Panimbang Jaya dan Sidamukti. Pembudidaya kerang hijau di Kecamatan Panimbang, tergabung dalam kelompok tani sebanyak 10 kelompok yang tiap anggotanya terdiri dari 5 pembudidaya. Produksi kerang hijau dari Kecamatan Panimbang per musim  panen dapat mencapai 300  ton. Pemasaran kerang hijau hasil produksi dari Kecamatan Panimbang dilakukan ke wilayah Jakarta dan Tangerang.
Pengolahan kerang hijau banyak dilakukan di wilayah Kelurahan Kalibaru Kecamatan Cilincing Jakarta Utara. Jumlah pengolah kerang hijau di Kelurahan Kalibaru sekitar 60 pengolah.  Pada saat musim panen, jumlah kerang hijau yang diolah dalam satu hari  dapat mencapai 100 karung per pengolah, dimana 1 karung berisi 40 kg kerang hijau. Musim Kerang hijau biasanya terjadi pada bulan Juni-Oktober. Harga kerang hijau per ember di tingkat nelayan  sekitar Rp. 10.000,- /kg, sedangkan di tingkat pedagang mencapai Rp. 15.000,- /kg.
 Proses pengolahan kerang meliputi pemisahan  kerang dari kotoran yang ada, kemudian pencucian kerang sampai bersih, perebusan dengan menggunakan kompor selama 1-1,5 jam dan pengupasan kerang untuk mengeluarkan dagingnya. Jenis olahan kerang yang ada di pasaran terbagi menjadi dua yaitu olahan kerang yang sudah dikupas dan olahan   rebusan kerang yang masih terdapat cangkang.
Pemasaran   kerang yang telah dikupas cangkangnya biasanya dilakukan ke Pasar Muara Baru dengan volume penjualan daging kerang pada saat musim  mencapai 20-30 ton per malam, sedangkan pemasaran olahan kerang yang masih terdapat cangkang dilakukan oleh pedagang  dengan menggunakan gerobak keliling ke wilayah Jakarta. Utara dan Jakarta Timur dengan jumlah pedagang sekitar 500 pedagang. Pemasaran kerang yang masih mentah dari Kecamatan Cilincing  Jakarta Utara biasanya di pasarkan ke pasar tradisional yang ada di Jakarta, Tangerang, Bandung dan Cirebon.
Kerang dipanen nelayan saat berumur enam bulan. Di Jakarta, kerang biasa dipelihara di Teluk Jakarta. Binatang bernama ilmiah Anadara granosa ini biasanya langsung direbus dengan air laut usai dipanen. Setelah matang, kerang diturunkan dari tong perebusan untuk kemudian dikupas dari kulitnya. Puluhan pekerja kemudian melepaskan daging dari kulit kerang untuk diolah lebih lanjut. Hingga tahap ini tak ada masalah dengan pengolahan. Semua berjalan baik dan tak ada peran bahan kimia beracun. Kerang yang sudah dicabuti ini belum dibersihkan dari kotoran yang menempel. Pembersihan akan dilakukan setelah satu tong penuh kerang atau sekitar seratus kilogram


Saturday, September 17, 2022

BUDIDAYA IKAN NILA DI KOLAM TANAH





Usaha budidaya ikan nila semakin diminati. Ikan nila mudah dipelihara dan relatif tahan banting. Pasarnya terbuka luas mulai dari pasar lokal sampai ke mancanegara. Budidaya ikan nila tidaklah sulit, karena ikan ini merupakan jenis ikan yang mudah berkembang biak dan mempunyai kemampuan adaptasi yang baik. Di alam bebas, ikan nila banyak ditemukan di perairan air tawar seperti sungai, danau, waduk dan rawa dengan suhu optimal bagi pertumbuhan ikan nila berkisar 25-30oC dengan pH air 7-8. Ikan nila termasuk hewan pemakan segala atau omnivora. Makanan alaminya plankton, plankton, tumbuhan air dan berbagai hewan air lainnya.
Budidaya ikan nila bisa menggunakan berbagai jenis kolam, mulai dari kolam tanah, kolam semen, kolam terpal, jaring terapung hingga tambak air payau. Dari sekian jenis kolam tersebut, kolam tanah paling banyak digunakan karena cara membuatnya cukup mudah dan biaya konstruksinya murah. Keunggulan lain kolam tanah adalah bisa menjadi tempat tumbuh berbagai tumbuhan dan hewan yang bermanfaat sebagai pakan alami bagi ikan. Sehingga bisa mengurangi biaya pembelian pakan buatan atau pellet.
Untuk memulai budidaya ikan nila di kolam tanah ada beberapa hal yang harus persiapkan dan diperhatikan, yakni pembuatan kolam, persiapan kolam, pemilihan & pemasukan benih, pemeliharaan/ pembesaran, penanganan penyakit dan pemanenan. Dalam video ini kita akan bahas hal tersebut satu per satu dengan jelas dan ringkas.
1.    Pembuatan kolam
Banyak pembudidaya ikan membuat kolam ikan secara asal-asalan. Bahkan terkadang tidak lebih seperti kubangan air saja. Hal ini yang membuat produktivitas budidaya tidak maksimal. Faktor kolam tidak kalah penting dengan faktor budidaya lainnya seperti benih, pakan dan air. Kolam ikan merupakan tempat habitat hidup ikan. Kondisi kolam ikan menentukan baik tidaknya pertumbuhan ikan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat kolam ikan. Mulai dari menganalisis jenis tanah, kontur lahan, tata letak kolam, irigasi, penggalian, pembuatan tanggul hingga pengaturan sirkulasi air.
Jenis tanah yang paling baik untuk membuat kolam tanah adalah tanah liat berpasir. Jenis tanah ini cukup kedap air, teksturnya solid sehingga pembuatan tanggulnya pun lebih mudah. Bila tanah yang tersedia terlalu gembur, perlu usaha ekstra agar berfungsi dengan baik. Misalnya dinding kolam diberi lapisan semen atau batu bata. Cara ini efektif mencegah kebocoran, namun biaya kontruksinya jauh lebih mahal. Cara sederhana menentukan jenis tanah adalah dengan menggenggam segumpal tanah yang telah dibasahi dengan air. Kemudian kepalkan tanah tersebut kuat-kuat. Kemudian buka telapak tangan Anda. Bila di permukaan telapak tangan hanya ada sedikit pasir maka bisa dikatakan tanah liat berpasir. Bila jumlah pasir yang menempel di telapak tangan banyak, tanah tersebut dikategorikan tanah gembur.
Kontur lahan
Setelah menganalisis jenis tanah, amati kontur lahan yang akan dijadikan kolam ikan. Apakah lahan datar atau lahan miring. Kemiringan lahan menentukan metode penggalian dan pembuatan tanggul. Pada lahan miring, pengaturan pola aliran air lebih mudah. Penggalian tanah di lahan miring cukup dilakukan pada satu sisi. Kemudian tanah hasil galian digunakan untuk membuat tanggul di sisi lain. Sedangkan pada lahan datar, penggalian dilakukan di semua sisi. Hasil galian dijadikan untuk membuat tanggul. 

Tata letak kolam ikan
Bila kita ingin membuat satu kolam saja, tata letak kolam lebih sederhana. Tinggal memaksimalkan letak parit yang dijadikan sumber air dan sistem pembuangan. Namun apabila jumlah kolam yang akan dibuat banyak. Tata letak kolam perlu dipertimbangkan dengan seksama. Dilihat dari sistem pengairannya terdapat dua tipe tata letak kolam ikan, yakni pararel dan seri. Dalam sistem pengairan pararel masing-masing kolam menerima asupan air dari sumber air secara langsung. Parit atau saluran irigasi harus dibuat melewati setiap kolam ikan yang ada. Konsekuensinya biaya kontruksi akan lebih besar.
Sistem pengairan pararel lebih baik dalam hal menjaga kualitas air. Karena air yang masuk ke dalam kolam merupakan air segar, langsung dari sumber air. Belum tercemar oleh sisa-sisa pakan terlarut atau bibit penyakit yang ada pada kolam ikan sebelumnya. Sedangkan dalam sistem pengairan seri, setiap kolam ikan menerima asupan air dari pengeluaran kolam lainnya. Sebagai contoh, kolam ikan pertama mendapat air dari sumber air secara langsung. Kemudian kolam ikan kedua menerima asupan air dari pengeluaran kolam pertama. Kolam ikan ketiga menerima asupan air dari pengeluaran kolam ikan kedua, dan seterusnya.
Sistem pengairan seri cocok diterapkan di daerah yang memiliki sumber air terbatas. Kelemahan sistem pengairan seri adalah sulit untuk mengontrol pencemaran air dan penyebaran penyakit. Misalnya bila kolam pertama terserang penyakit, akan mudah menyebar ke kolam berikutnya. Begitu juga dengan cemaran air lainnya. Keuntungan sistem seri saluran irigasinya tidak memakan tempat dan bisa dibuat simpel. Sehingga biaya kontruksinya lebih murah. Biaya pemeliharaannya pun lebih murah.

Membuat tanggul kolam ikan

Tanggul berfungsi untuk menahan air dan sebagai pembatas kolam ikan. Tanggul yang baik harus kedap air (tidak rembes), kuat menahan beban air, tidak mudah erosi, dan tidak bocor. Untuk jenis tanah liat berpasir, tanggul bisa dibuat hanya dengan tanah. Tetapi untuk jenis tanah yang gembur dan mudah erosi diperlukan tanggul dari batu atau tembok.

a. Tanggul tanah

Apabila jenis tanahnya memungkinkan, kolam ikan bisa dibuat hanya dengan menggunakan tanggul tanah. Dari segi konstruksi, pembuatan tanggul tanah lebih murah dan mudah. Berikut langkah-langkah membuat tanggul tanah:
§  Tetapkan luas kolam yang akan digali, tentukan garis batasnya.
§  Kemudian mulai menggali lapisan tanah atas sedalam kurang lebih 10 cm. Pisahkan tanah lapisan atas ini, untuk nanti ditebarkan kembali ke dasar kolam. Tanah bagian atas ini kaya akan bahan organik yang berguna bagi kehidupan ikan.
§  Mulai gali kembali permukaan tanah sedalam 60 cm. Bagian tanah yang ini digunakan untuk membuat tanggul. Bersihkan dari batuan, akar atau pun sampah lainnya agar tanggul yang disusun tidak bocor.
§  Tanggul dibuat dengan penampang berbentuk trapesium. Lebar di bagian bawah dan menyempit di bagian atas. Semakin lebar tanggul semakin baik, karena akan semakin kokoh. Tapi tentunya semakin lebar tanggul akan memakan tempat. Sesuaikan lebar tanggul dengan luas kolam.
§  Sebelum tanggul dibuat, sebaiknya gali dasar tanggul sedalam 20-25 cm sebagai pondasi (lihat gambar). Kemudian isi dengan tanah hasil galian dan mampatkan. Tanah galian untuk membentuk tanggul bisa diairi terlebih dahulu agar solid.

 b. Tanggul tembok

Tanggul tembok diperlukan apabila kita menginginkan kolam yang lebih permanen dan jenis tanah yang ada tidak memungkinkan untuk membuat tanggul tanah. Tembok bisa digunakan sebagai pelapis atau pembatas. Sebagai pelapis artinya, lapisan tembok hanya memperkuat tanggul tanah. Biasanya diterapkan pada kolam tunggal. Untuk jumlah kolam yang banyak, biasanya seluruh tanggul dibuat dari lapisan batu-bata dan adukan semen atau dibeton. Tanggul menjadi pembatas antara kolam yang satu dengan kolam yang lain. Pembuatan tanggul dari tembok tentunya memerlukan biaya yang jauh lebih besar daripada tanggul tanah.

Membuat saluran air

Saluran air masuk dan keluar merupakan bagian vital dari kolam ikan. Saluran ini bertugas menjaga kualitas air kolam. Bila saluran air terhambat, kualitas air kolam akan turun dan bisa menyebabkan kematian pada ikan. Saluran masuk dan keluar air untuk kolam ikan bisa dibuat lebih dari satu. Pada kolam-kolam yang besar, biasanya dibuat 2-3 pasang saluran air. Pada kolam lebih kecil cukup dibuat satu pasang saluran.
Jarak antar saluran masuk dan keluar harus dibuat sejauh mungkin. Letak saluran masuk dan keluar sebisa mungkin bersilangan jangan sejajar. Gunanya agar terjadi sirkulasi air dalam kolam. Air yang masuk tidak langsung keluar, melainkan menggantikan air lama.

a. Saluran masuk

Saluran masuk bisa dibuat dengan selongsong bambu atau pipa PVC. Pipa diletakkan memotong dan menembus tanggul. Ketinggian pipa sejajar atau lebih tinggi dari permukaan air kolam yang dikehendaki.
Pipa dipasang mendatar, pada bagian pangkal yang mengarah ke luar kolam dipasangi jaring agar tidak ada binatang apapun yang bisa keluar masuk kolam. Berikut gambarnya.

b. Saluran keluar

Terdapat dua macam saluran keluar untuk kolam ikan, yakni saluran keluar air kolam sebagai sistem sirkulasi dan saluran keluar air kolam untuk pemanenan. Teknik pembuatan kedua saluran tersebut bisa disatukan atau terpisah.
Teknik pertama secara terpisah. Pipa pengeluaran air sirkulasi dibuat di permukaan kolam dan pipa pengeluaran air pemanenan dibuat di dasar kolam. Pipa yang dibuat di permukaan, dipasang melintang pada tanggul. Bagian yang menghadap kolam lebih rendah dari pada bagian yang ada di luar kolam. Pipa pengeluaran untuk pemanenan dibuat di dasar kolam yang paling rendah. Biasanya dibuat pada saluran kemalir. Pada ujung pipa yang ada di dalam kolam dipasangi katup yang bisa dibuka-tutup.
Teknik kedua secara menyatu. Pipa pengeluaran air dan pemanenan dibuat satu. Untuk membuatnya diperlukan pipa berbentuk “L”, atau pipa menyiku. Pipa ini dibuat di dasar kolam. Pipa yang mengarah ke luar kolam membentuk huruf L menengadah ke atas. Tinggi pipa yang berdiri vertikal sejajar dengan permukaan air kolam. Dengan teknik ini ketinggian air kolam lebih mudah untuk diatur.

Membuat kemalir

Saluran kemalir merupakan bagian penting dari kolam ikan. Kemalir adalah parit yang ada di dasar kolam, kedalamannya sekitar 20-30 cm. Kemalir berfungsi untuk membantu pemanenan, menampung endapan sisa makanan, mengendapkan lumpur berbahaya dan mengatur aliran air bawah. Jumlah kemalir disesuaikan dengan pintu pengeluaran air.

2.    Persiapan kolam (pengolahan tanah)
Untuk memulai budidaya ikan nila di kolam tanah, perlu langkah-langkah persiapan pengolahan tanah. Mulai dari penjemuran, pembajakan tanah, pengapuran, pemupukan hingga pengairan. Berikut langkah-langkahnya:
§  Langkah pertama adalah pengeringan dasar kolam. Kolam dikeringkan dengan cara dijemur. Penjemuran biasanya berlangsung selama 3-7 hari, tergantung kondisi cuaca. Sebagai patokan, penjemuran sudah cukup bila permukaan tanah terlihat retak-retak, namun tidak sampai membatu. Bila diinjak masih meninggalkan jejak kaki sedalam 1-2 cm.
§  Selanjutnya, permukaan tanah dibajak atau dicangkul sedalam kurang lebih 10 cm. Sampah, kerikil dan kotoran lainnya dibersihkan dari dasar kolam. Bersihkan juga lumpur hitam yang berbau busuk, biasanya berasal dari sisa pakan yang tidak habis.
§  Kolam yang telah dipakai biasanya memiliki tingkat keasaman tinggi (pH rendah), kurang dari 6. Padahal kondisi pH optimal untuk budidaya ikan nila ada pada kisaran 7-8. Untuk menetralkannya lakukan pengapuran dengan dolomit atau kapur pertanian. Dosis pengapuran disesuaikan dengan keasaman tanah. Untuk pH tanah 6 sebanyak 500 kg/ha, untuk pH tanah 5-6 sebanyak 500-1500 kg/ha, untuk pH tanah 4-5 sebanyak 1-3 ton/ha. Kapur diaduk secara merata. Usahakan agar kapur bisa masuk ke dalam permukaan tanah sedalam 10 cm. Kemudian diamkan selama 2-3 hari.
§  Setelah itu lakukan pemupukan. Gunakan pupuk organik  sebagai pupuk dasar. Jenisnya bisa pupuk kompos atau pupuk kandang. Pemberian pupuk organik berguna untuk mengembalikan kesuburan tanah. Dosisnya sebanyak 1-2 ton per hektar. Pupuk ditebar merata di dasar kolam. Biarkan selama 1-2 minggu. Setelah itu, bila dipandang perlu bisa ditambahkan pupuk kimia berupa urea 50-70 kg/ha dan TSP 25-30 kg/ha, diamkan 1-2 hari. Tujuan pemupukan untuk memberikan nutrisi bagi hewan dan tumbuhan renik yang ada di lingkungan kolam. Sehingga hewan atau tumbuhan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai pakan alami ikan.
§  Langkah selanjutnya, kolam digenangi dengan air. Pengairan dilakukan secara bertahap. Pertama, alirkan air ke dalam kolam sedalam 10-20 cm. Diamkan selama 3-5 hari. Biarkan sinar matahari menembus dasar kolam dengan sempurna, untuk memberikan kesempatan pada ganggag atau organisme air lainnya tumbuh. Setelah itu isi kolam hingga ketinggian air mencapai 60-75 cm
  
3.    Pemilihan dan pemasukan bemih
Pemilihan benih merupakan faktor penting yang menentukan tingkat keberhasilan budidaya ikan nila. Untuk hasil maksimal sebaiknya gunakan benih ikan berjenis kelamin jantan. Karena pertumbuhan ikan nila jantan 40% lebih cepat dari pada ikan nila betina. Disamping itu pilihlah benih nila yang baik dengan ciri 1) kelihatan kasat mata sehat dan tidak cacat, 2) ukuran benih relatif sama, 3) aktif bergerak, 4) jika disentuh atau didekati responsif, 5) bersumber dari pembenih ikan yang terpercaya (kalau perlu bersertifikat resmi).
Kolam yang telah terisi air sedalam 60-75 cm dan air kolam sudah berwarna kehijauan datau kecoklatan dan tidak berbau busuk, yang artinya plankton sebagai pakan alami dasar ikan sudah tumbuh siap untuk ditebari benih ikan nila. Padat tebar kolam tanah untuk budidaya ikan nila sebanyak 15-30 ekor/m2. Dengan asumsi, ukuran benih sebesar 10-20 gram/ekor.
Sebelum benih ditebar, hendaknya melewati tahap adaptasi terlebih dahulu. Gunanya agar benih ikan terbiasa dengan kondisi kolam, sehingga resiko kematian benih bisa ditekan. Caranya, masukkan wadah yang berisi benih ikan nila ke dalam air kolam. Biarkan selama beberapa jam. Kemudian miringkan atau buka wadah tersebut. Biarkan ikan keluar dan lepas dengan sendirinya

4.    Pemeliharaan/ pembesaran
Tiga hal yang paling penting dalam pemeliharaan budidaya ikan nila adalah pengelolaan air, pemberian pakan dan pengendalian hama penyakit.

a. Pengelolaan air

Agar pertumbuhan budidaya ikan nila maksimal, pantau kualitas air kolam. Parameter penentu kualitas air adalah kandungan oksigen dan pH air. Bisa juga dilakukan pemantauan kadar CO2, NH3 dan H2S bila memungkinkan.
Bila kandungan oksigen dalam kolam menurun, perderas sirkulasi air dengan memperbesar aliran debit air. Bila kolam sudah banyak mengandung NH3 dan H2S yang ditandai dengan bau busuk, segera lakukan penggantian air. Caranya dengan mengeluarkan air kotor sebesar nya, kemudian menambahkan air baru. Dalam keadaan normal,pada kolam seluas 100 m2 atur debit air sebesar 1 liter/detik.

b. Pemberian pakan

Pengelolaan pakan sangat penting dalam budidaya ikan nila. Biaya pakan merupakan komponen biaya paling besar dalam budidaya ikan nila. Berikan pakan berupa pelet dengan kadar protein 20-30%.
Ikan nila membutuhkan pakan sebanyak 3% dari bobot tubuhnya setiap hari. Pemberian pakan bisa dilakukan pada pagi dan sore hari. Setiap dua minggu sekali, ambil sampel ikan nila secara acak kemudian timbang bobotnya. Lalu sesuaikan jumlah pakan yang harus diberikan.
5.    Penanganan penyakit
Seperti telah disebutkan sebelumnya, ikan nila merupakan ikan yang tahan banting. Pada situasi normal, penyakit ikan nila tidak banyak mengkhawatirkan. Namun bila budidaya ikan nila sudah dilakukan secara intensif dan massal, resiko serangan penyakit harus diwaspadai.
Penyebaran penyakit ikan sangat cepat, khususnya untuk jenis penyakit infeksi yang menular. Media penularan biasanya melewati air. Jadi bisa menjangkau satu atau lebih kawasan kolam. Untuk penjelasan lebih jauh silahkan baca hama dan penyakit ikan nila.

6.    Pemanenan
Waktu yang diperlukan untuk budidaya ikan nila mulai dari penebaran benih hingga panen mengacu pada kebutuhan pasar. Ukuran ikan nila untuk pasar domestik berkisar 300-500 gram/ekor. Untuk memelihara ikan nila dari ukuran 10-20 gram hingga menjadi 300-500 gram dibutuhkan waktu sekitar 4-6 bulan.
Demikianlah cara dan tahapan yang baik dalam melakukan usaha budidaya ikan nila di kolam tanah. Mudah-mudahan bermanfaat dan dapat menambah informasi serta wawasan kita Bersama. Terima kasih

Saturday, July 9, 2022

BUDIDAYA BERKELANJUTAN DAN PENGENTASAN KEMISKINAN




PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dsb) yang berprinsip "memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan" (menurut Brundtland Report dari PBB, 1987).  Menurut Emil Salim (1990) dalam Jaya (2004) pembangunan berkelanjutan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi manusia. Pembangunan yang berkelanjutan pada hekekatnya ditujukan untuk mencari pemerataan pembangunan antar generasi pada masa kini maupun masa mendatang.
Pembangunan berkelanjutan  terdiri dari pilar (ekonomi, sosial, dan lingkungan) yang saling bergantung dan memperkuat. Idealnya, ketiga hal tersebut dapat berjalan bersama-sama dan menjadi fokus pendorong dalam pembangunan berkelanjutan. Ketiga pilar itu harus menjadi bahan pertimbangan dalam setiap kegiatan pembangunan berkelanjutan. Apabila ketiga pilar ini dilaksanakan  secara menyeluruh maka tujuan pembangunan berkelanjutan akan tercapai.
Dalam perkembangannya semakin disadari bahwa pembangunan berkelanjutan tidak hanya terkait dengan pilar lingkungan hidup, namun juga pembangunan ekonomi dan sosial. Lingkungan dapat dijaga dengan baik bila kondisi sosial dan ekonomi masyarakat buruk. Pengentasan kemiskinan menjadi poin penting yang menentukan keberhasilan pembangunan berkelanjutan. Tidaklah mungkin masyarakat yang untuk hidup saja sulit akan dapat menjaga lingkungannya dengan baik.  Hal ini sejalan dengan yang disampaikan Sarosa dalam buku “Bunga Rampai Pembangunan Kota Indonesia dalam Abad 21” (Buku 1) pada era pembangunan berkelanjutan saat ini ada 3 tahapan yang dilalui oleh setiap Negara. Pada setiap tahap, tujuan pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi namun dengan dasar pertimbangan aspek-aspek yang semakin komprehensif dalam tiap tahapannya. Tahap pertama dasar pertimbangannya hanya pada keseimbangan ekologi. Tahap kedua dasar pertimbangannya harus telah memasukkan pula aspek keadilan sosial. Tahap ketiga, semestinya dasar pertimbangan dalam pembangunan mencakup pula aspek aspirasi politis dan sosial budaya dari masyarakat setempat (Dewan Redaksi, 2009) .
Pembangunan berkelanjutan adalah sebagai upaya manusia untuk memperbaiki mutu kehidupan dengan tetap berusaha tidak melampaui ekosistem yang mendukung kehidupannya. Dewasa ini masalah pembangunan berkelanjutan telah dijadikan sebagai isu penting yang perlu terus di sosialisasikan ditengah masyarakat (Jaya, 2004). Hal ini dilakukan dengan harapan setiap orang dapat memahami dan berperan dalam upaya implementasi pembangunan berkelanjutan.

Maksud Dan Tujuan
            Maksud penulisan makalah ini adalah untuk menyajikan keterkaitan antara aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan. Adapun indikator yang dibahas untuk masing-masing aspek secara berurutan adalah persen penduduk di bawah garis kemiskinan, luas lahan subur dan permanen, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita, dan strategi pembangunan berkelanjutan nasional.
            Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan bahwa pengentasan kemiskinan sebagai upaya menurunkan angka persen penduduk di bawah garis kemiskinan. Dalam pelaksanaanya, pengentasan kemiskinan ini terkait dan saling mempengaruhi dengan indikator lain yaitu luas lahan budidaya perikanan subur dan permanen, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita, dan strategi pembangunan berkelanjutan nasional.

PEMBAHASAN
Pelaksanaan pembangunan berkelanjutan harus senantiasa mempertimbangkan aspek-aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan mengingat semuanya itu saling terkait satu sama lain serta saling mendukung. Apabila kita mengabaikan salah satu pilar maka tujuan pembangunan berkelanjutan tersebut niscaya tidak akan tercapai.
Sosok final dari konsep pembangunan berkelanjutan di Indonesia belum terlihat jelas. Namun proses menuju pelaksanaan pembangunan berkelanjutan meliputi tindakan-tindakan di bidang kebijakan publik telah dilaksanakan sejak didirikannya kelembagaan lingkungan hidup pada tahun 1978. Elemen-elemennya antara lain:
1.      Kebijakan konservasi dan diversifikasi energi, ke arah pengurangan penggunaan energi fosil dan makin dominannya penggunaan energi alternatif yang ramah lingkungan.
2.      Kebijakan kependudukan untuk menahan laju pertumbuhan penduduk sampai ke tingkat yang dapat ditenggang oleh keberadaan sumber daya alam dan dapat terlayani baik oleh fasilitas publik di bidang kesejahteraan rakyat.
3.      Kebijakan spatial untuk menjamin penggunaan ruang wilayah sehingga berbagai kegiatan ekonomi manusia dapat berjalan secara serasi didukung oleh infrastruktur fisik yang memadai, sekaligus juga menyediakan sebagian ruang alam di darat dan di perairan untuk konservasi sumber daya alam.
4.      Kebijakan untuk menanamkan budaya dan gaya hidup hemat, bersih dan sehat, sehingga kualitas hidup manusia dapat terjamin dengan menghindarkan pemborosan energi, material dan mengurangi tindakan medik kuratif.
5.      Kebijakan pengendalian kerusakan dan pencemaran lingkungan untuk menjamin tersedianya kebutuhan dasar manusia akan air bersih, udara bersih, sumber-sumber makanan dan pencegahan bencana.
6.      Kebijakan di bidang hukum, informasi, pemerintahan, ekonomi, fiskal dan pendidikan dan lainnya untuk menunjang hal-hal di atas.
Usaha untuk menyelaraskan pembangunan ekonomi dengan disertai upaya pelestarian lingkungan hidup melalui pendekatan pembangunan berkelanjutan merupakan salah satu fokus pembangunan nasional dewasa ini. Melalui pembangunan berkelanjutan, diharapkan pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan hidup dapat berjalan secara harmonis dan terpadu (Direktorat Kelautan dan Perikanan Bappenas).
Dalam pembangunan berkelanjutan, pemberantasan kemiskinan masih menjadi tantangan besar bagi pembuat keputusan kebijakan. Lebih jauh lagi, untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan  maka sebuah sudut pandang yang integratif harus sekaligus memperhitungkan isu-isu pembangunan, penggunaan sumber daya dan kualitas lingkungan, dan kesejahteraan manusia.
Kemiskinan menjadi poin penting yang menentukan keberhasilan pembangunan berkelanjutan dan hanya kalangan publik yang cukup makmur yang mampu mengatasi problem lingkungan (Irza, 2009). Keterbatasan lapangan kerja dan  daya dukung lingkungan mengakibatkan tumbuhnya kemiskinan. Tansisi demografi yang terjadi di dunia ketiga menyebabkan terjadinya urbanisasi secara besar-besaran. Fenomena tersebut dapat ditemukan di kota-kota besar di Asia Tenggara termasuk di Indonesia. Jumlah penduduk yang sangat berbeda jauh antara kota besar dengan kota kecil.
Berdasarkan hal di atas, kemiskinan menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan dari pembangunan berkelanjutan. Mengingat hanya kalangan publik yang cukup mampu yang bisa menghindar dari problem lingkungan. Misalnya mereka dapat memilih bahan pangan organik, produk ramah lingkungan, dan penggunaan energi alternatif. Ini disebabkan produk-produk tersebut masih tergolong mahal sehingga hanya masyarakat mampu yang dapat membelinya.
Agenda 21 Indonesia sebagai Strategi Pembagunan Berkelanjutan Nasional Indonesia, memuat agenda pelayanan masyarakat pada dasarnya merupakan perwujudan prinsip-prinsip sosial ekonomi pembangunan berkelanjutan. Agenda pelayanan masyarakat yang ditetapkan sebagai agenda pertama dan ini menyiratkan bahwa fokus pembangunan dan pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia memang diarahkan pada dimensi sosial-ekonomi, tanpa mengabaikan dimensi lain. Salah satu sub-agenda pelayanan masyarakat adalah pengentasan kemiskinan.
Melalui pengentasan kemiskinan diharapkan persen penduduk di bawah garis kemiskinan akan terus berkurang. Keberhasilan pengentasan kemiskinan akan berpengaruh terhadap luas lahan budidaya perikanan subur dan permanen, serta PDB yang dihasilkan. Kesemuanya itu akan lebih terarah dengan adanya strategi pembangunan berkelanjutan.
.
Pilar Sosial : Persen Penduduk Di Bawah Garis Kemiskinan
Persen Penduduk Di Bawah Garis Kemiskinan didefinisikan sebagai proporsi penduduk dengan standar hidup di bawah garis kemiskinan. Ini diperlukan untuk penilaian secara keseluruhan kemajuan suatu negara dalam pengentasan kemiskinan dan/atau evaluasi kebijakan/proyek tertentu. Garis kemiskinan ini merupakan batas pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minimal kalori yang diperlukan tubuh untuk beraktivitas, ditambah dengan kebutuhan non-makanan (perumahan, pakaian, pendidikan, kesehatan, transpor dan kebutuhan pokok lainnya).
Penduduk di bawah garis kemiskinan dikenal juga dengan istilah prasejahtera yang artinya penduduk yang hidup di bawah standar hidup layak. Metode yang digunakan untuk mengukur standar kehidupan individu adalah  konsumsi per setara pria dewasa dan Undernutrition. Ada beberapa pendekatan untuk menentukan garis kemiskinan yaitu :
-          Garis kemiskinan absolut : garis kemiskinan dalam kaitannya dengan indikator standar hidup yang digunakan (konsumsi, nutrisi). Relevan untuk negara-negara berpenghasilan rendah. Pengukuran garis kemiskinan absolut sangat penting jika orang mencoba menilai efek dari kebijakan anti kemiskinan, atau memperkirakan dampak dari suatu proyek (misalnya pemberian kredit skala kecil) terhadap kemiskinan.
-          Garis kemiskinan relatif : garis kemiskinan akan cenderung meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Relevan untuk negara-negara berpenghasilan tinggi.
Kemiskinan menjadi poin penting yang menentukan keberhasilan pembangunan berkelanjutan dan hanya kalangan publik yang cukup makmur yang mampu mengatasi problem lingkungan. Kemiskinan mengakibatkan terjadinya perubahan guna lahan. Mereka yang tidak mampu membeli lahan akan  menggunakan kawasan yang berfungsi lindung untuk dijadikan lahan budidaya perikanan atau untuk membangun tempat tinggal. Kawasan lindung yang dimaksud antara lain bantaran sungai, hutan kota, rawa, dan lain-lain. Sehingga para pakar lingkungan di negara maju menilai bahwa penurunan daya dukung lingkungan yang terjadi di dunia disebabkan oleh fenomena kemiskinan yang tidak kunjung berakhir di negara berkembang.
Penentuan garis kemiskinan ini selain dilihat dari kemampuan memenuhi kebutuhan minimal kalori juga kemampuan memenuhi kebutuhan non-makanan misalnya pendidikan dan kesehatan. Penduduk di bawah garis kemiskinan pada umumnya memiliki tingkat pendidikan dan kesehatan yang rendah, ini sangat berpengaruh terhadap SDM. Seperti kita ketahui SDM merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi, dengan demikian secara langsung atau pun tidak langsung persen penduduk di bawah garis kemiskinan mempengaruhi pencapain PDB.
Dengan demikian, maka persen penduduk di bawah garis kemiskinan perlu terus diturunkan karena  indikator ini akan mempengaruhi kualitas lingkungan,  dan PDB. Ini sesuai dengan strategi pembangunan berkelanjutan di Indonesia yang menempatkan pengentasan kemiskinan sebagai sub-agenda pertama yang artinya bahwa fokus pembangunan dan pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia memang diarahkan pada dimensi sosial-ekonomi tetapi tidak mengabaikan dimensi lain.


Pilar Lingkungan : Area Lahan Budidaya perikanan
Indikator ini menunjukan jumlah lahan yang tersedia untuk kegiatan produksi budidaya perikanan . Tanah yang ditinggalkan peladang berpindah tidak termasuk dalam kategori ini. Data untuk tanah subur tidak dimaksudkan untuk menunjukkan jumlah lahan yang berpotensi ditanami. Lahan di bawah tanaman permanen adalah tanah ditanami dengan tanaman yang menempati tanah untuk waktu yang lama dan tidak perlu ditanam kembali setelah setiap panen tetapi tidak termasuk tanah di bawah tegakan kayu. Data ini terkait dengan data lain seperti populasi, total lahan, penggunaan pupuk, dan pestisida yang digunakan.
Meningkatnya kepadatan penduduk di pedesaan mengakibatkan berkurangnya lahan budidaya perikanan. Petani kecil dipaksa untuk memperluas lahan budidaya ke daerah-daerah baru, yang labil dan tidak cocok untuk budidaya. Intensifikasi tanaman, dilakukan agar dapat mengurangi tekanan pada tanah-tanah baru budidaya tetapi mengadopsi praktek-praktek budidaya perikanan mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup (seperti penggunaan bahan kimia) agar mencapai hasil panen yang lebih banyak.
Penduduk Indonesia yang jumlahnya lebih dari 220 juta jiwa, dengan laju pertumbuhan 1,3 persen per tahun dan terkonsentrasi di Jawa mendorong laju alih fungsi lahan semakin tinggi dan Jawa menjadi tereksploitasi berlebihan yang tercermin dari luas pemilikan lahan rata-rata yang terus menciut. Di Jawa luas kepemilikan hanya 0,3 hektar per KK dan sementara di luar Jawa hanya 1 hektar. Padahal, kita tahu, menurut hasil analisis ekonomi sederhana, luas kepemilikan lahan yang ekonomis minimal 2 hektar di Jawa dan lebih dari 10 hektar untuk luar Jawa (Apriantono,2008).
Indonesia sebagai negara agraris menempatkan budidaya perikanan penyumbang PDB yang cukup besar. Maka dari itu apabila lahan budidaya perikanan terus berkurang, besar kemungkinan PDB yang dihasilkan juga akan menurun. Selain berdampak pada PDB, berkurangnya lahan budidaya perikanan juga berpengaruh terhadap kesejahteraan penduduk baik langsung maupun tidak langsung.
Secara umum penduduk yang terlibat di sektor budidaya perikanan dapat dibedakan menjadi petani usaha dan petani buruh. Petani usaha mengandalkan pendapatannya dari hasil budidaya perikanan yang dijualnya sedangkan buruh tani mengandalkan pendapatannya dari upah yang dibayar oleh petani usaha. Dalam hubungan ini terlihat bahwa petani usaha memiliki resiko atas apa yang diusahakannya sedangkan buruh tani tidak memiliki resiko. Dalam hal pendapatan, petani usaha memiliki pendapatan yang fluktuatif sesuai hasil dan harga yang diterimanya, sedangkan buruh tani cenderung stabil pada kisaran angka tertentu. Pendapatan usaha tani sangat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu hasil budidaya perikanannya dan harga atas hasil budidaya perikanannya.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa ketersediaan lahan budidaya perikanan berpengaruh terhadap PDB, kesejahteraan penduduk, dan lingkungan. Maka dari itu untuk menjamin terlaksananya pembangunan berkelanjutan perlu adanya strategi nasional yang menjamin kepastian luas lahan budidaya perikanan agar sektor budidaya perikanan dapat terus perperan dalam PDB, kesejahteraan penduduk, dan kelestarian lingkungan.

Pilar Ekonomi : Produk Domestik Bruto (PDB) per Kapita
PDB diartikan sebagai nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (biasanya per tahun). PDB hanya menghitung total produksi dari suatu negara tanpa memperhitungkan apakah produksi itu dilakukan dengan memakai faktor produksi dalam negeri atau tidak (wikipedia).
            Relevansi PDB dengan pembangunan berkelanjutan, dengan mengalokasikan total produksi untuk setiap unit populasi akan diketahui sejauh mana tingkat output individu memberikan kontribusi untuk proses pembangunan dapat diukur. Hal ini mengindikasikan laju pertumbuhan pendapatan per kapita dan juga tingkat sumber daya yang digunakan. Sebagai kondisi yang diperlukan untuk menjadi indikator kinerja ekonomi utama pembangunan berkelanjutan, salah satu yang sering dikutip keterbatasan dari PDB adalah bahwa ia tidak memperhitungkan lingkungan sosial dan biaya produksi.
Sebagai contoh, pada bidang kehutanan nilai PDB hanya menunjukkan kontribusi produk kehutanan yang dipasarkan. Nilai penurunan kesejahteraan masyarakat akibat berkurangnya luas hutan tidak mampu direpresentasikan oleh PDB. Meningkatnya kemungkinan masyarakat tertimpa banjir akibat pepohonan berkurang atau berkurangnya sumber daya hayati yang dimiliki hutan tidak terjelaskan dalam PDB.
Usaha untuk memasukkan unsur lingkungan dalam perhitungan PDB telah dirintis sejak tahun 1995, namun masih ada beberapa hambatan dalam penerapannya, antara lain:
1. Belum ada ketentuan yang mengatur implementasi PDB Hijau dalam skala nasional. Sampai dengan saat ini PDRB Hijau masih dalam taraf kajian, belum menjadi pertimbangan dalam penentuan prioritas pembangunan sektoral;
2. Keterbatasan metodologi dalam mengidentifikasi dan mengkuantifikasi nilai ekonomi kerusakan ataupun manfaat lingkungan karena pembangunan.
Indikator yang selama ini digunakan untuk mengukur keberhasilan pembangunan lebih ditekankan pada besaran pendapatan per kapita penduduk. Salah satu indikator umum yang lazim digunakan adalah angka PDB per jumlah penduduk. Apabila ukuran tersebut dipakai untuk mengukur perkembangan ekonomi jangka panjang, cakupan komponen perhitungan PDB tersebut harus diperluas dengan memperhitungkan adanya tingkat penipisan (deplisi) sumber daya alam dan degradasi lingkungan (Direktorat Kelautan dan Perikanan Bappenas). Dalam penggunaan PDB sebagai indikator pembangunan berkelanjutan, PBB bekerja sama dengan Bank Dunia, Masyarakat Eropa, IMF, dan OECD telah mengembangkan konsep perhitungan PDB yang memperhitungkan faktor lingkungan yang disebut System for Integrated Environment and Economic Accounting.
Pembangunan yang optimal dan berkelanjutan ditandai dengan PDB yang tinggi serta deplesi SDA dan degradasi lingkungan yang rendah. PDB Hijau memberikan beberapa manfaat dalam penentuan kebijakan pembangunan, yaitu :  
a) Menghindari bias perhitungan penilaian kinerja pembangunan ekonomi suatu daerah (struktur perekonomian lebih realistis);
b) Mengontrol eksploitasi SDA dan kerusakan lingkungan;
c) Sebagai masukan dalam penentuan besar pungutan/ganti rugi kerusakan lingkungan;
d) Menambah motivasi penyelenggara pemerintahan untuk mengelola kelestarian lingkungan.
            Target nasional pada umumnya berorientasi pada prioritas ketersediaan sumber daya alam dan kinerja ekonomi dalam hal ini PDB yang dihasilkan. PDB sebagai indikator pembangunan berkelanjutan berhubungan dengan indikator lainnya antara lain persen penduduk di bawah garis kemiskinan, ketersediaan lahan subur dan permanen, serta strategi pembangunan berkelanjutan yang dilaksanakan.

Pilar Kelembagaan : Strategi Pembangunan Berkelanjutan Nasional
Strategi Pembangunan berkelanjutan nasional bertujuan untuk membangun dan menyelaraskan berbagai sektor ekonomi, sosial, dan kebijakan lingkungan dan rencana yang ada di suatu negara untuk memastikan tanggung jawab sosial pembangunan sekaligus melindungi sumber daya alam untuk kepentingan generasi mendatang. Di Indonesia, hal ini diwujudkan dalam Agenda 21 Indonesia yang dikeluarkan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, Jakarta. 
Tahun 1997 UNDP telah mendukung pengembangan dan peluncuran Agenda 21 Indonesia – versi lokal dari Agenda 21 Global yang diluncurkan dalam KTT Rio. Agenda 21 mendiskusikan ketergantungan pembangunan sosial dan ekonomi pada kelestarian lingkungan dan meletakkan dasar untuk pengesahan Perjanjian tentang Keanekaragaman Hayati dan Perubahan Iklim. Setelah KTT Johannesburg yang mengkaji ulang Agenda 21 Global, Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup, dengan bantuan UNDP, telah melakukan tinjauan terhadap pelaksanaan Agenda 21 Indonesia untuk meneliti konteks pembangunan berkelanjutan setelah krisis ekonomi. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup kini meletakkan dasar untuk merancang strategi jangka panjang menuju pencapaian tujuan-tujuan Agenda 21.
Agenda Pelayanan masyarakat pada dasarnya merupakan perwujudan prinsip-prinsip sosial ekonomi pembangunan berkelanjutan. Di Indonesia, agenda pelayanan masyarakat yang ditetapkan sebagai agenda pertama dan ini menyiratkan bahwa fokus pembangunan dan pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia memang diarahkan pada dimensi sosial-ekonomi, tanpa mengabaikan dimensi lain. Enam sub-agenda dirumuskan dalam agenda pelayanan masyarakat di Indonesia , yaitu :
1)        Pengentasan kemiskinan. Penting dicatat di sini bahwa pendidikan, yang merupakan bagian dari proses pemberdayaan masyarakat secara keseluruhan, sangat ditekankan dalam dokumen Agenda 21 Indonesia. Berbagai upaya pengelolaan lingkungan akan kurang efektip dilakukan apabila sebagian besar masyarakat masih berada di bawah garis kemiskinan, sementara upaya-upaya pelibatan masyarakat dalam berbagai opsi pengelolaan lingkungan juga tidak akan efektip tanpa meningkatkan pendidikan dasar masyarakat.
2)        Perubahan pola produksi dan konsumsi. Aspek ini dipandang perlu mendapat perhatian para pengelola lingkungan di Indonesia, karena akan menjadi dasar pijak bagi berbagai proyeksi persoalan lingkungan di Indonesia. Sebagaimana data-data empirik telah menunjukkan pola perubahan konsumsi masyarakat Indonesia mengindikasikan bahwa proses-proses produksi dan eksploitasi sumber daya alam di Indonesia akan semakin meningkat. Upaya-upaya pengelolaan lingkungan harus menyadari bahwa setiap perubahan pola konsumsi akan membawa implikasi yang luas bagi lingkungan.
3)        Dinamika kependudukan. Ini menjelaskan bahwa di samping jumlah absolutnya yang tetap tinggi, persoalan kependudukan di Indonesia meliputi pula persebaran serta kualitas penduduk sebagai sumberdaya manusia Pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia harus melihat bahwa pola persebaran yang tidak merata ini membawa baik dampak positip maupun negatif terhadap lingkungan. Selanjutnya, upaya-upaya pengelolaan lingkungan di Indonesia juga harus memperhatikan aspek-aspek yang berkaitan dengan peningkatan sumber daya manusia secara keseluruhan agar berbagai opsi pengelolaan lingkungan akan menjadi efektif.
4)        Pengelolaan dan peningkatan kesehatan (berhubungan dengan dinamika penduduk). Subagenda ini menekankan pentingnya upaya-upaya seperti pembangunan kesehatan dasar khususnya bagi kelompok rentan, pengendalian penyakit menular, serta pembangunan kesehatan perkotaan dan pengendalian pencemaran lingkungan.
5)        Pengembangan perumahan dan pemukiman. Fokus agenda ini menyangkut baik persoalan kuantitatip, yakni jumlah kebutuhan rumah, maupun persoalan kualitatip dalam arti kondisi lingkungan perumahan. Pengelolaan lingkungan hidup harus melihat persoalan ini secara seksama oleh karena implikasi langsungnya terhadap kualitas kesehatan masyarakat.
6)        Sistem terpadu antara perdagangan global, instrumen ekonomi, serta neraca ekonomi dan lingkungan. Aspek ini dipandang perlu dalam strategi pembangunan berkelanjutan di Indonesia, oleh karena proses gobalisasi yang terjadi tidak saja mempercepat proses-proses perubahan dan perusakan lingkungan yang sebelumnya tidak terbayangkan. Pengelolaan lingkungan di Indonesia harus secara jeli melihat peluang-peluang yang diberikan dalam proses globalisasi untuk kepentingan lingkungan.
Strategi pembangunan berkelanjutan nasional penting untuk menentukan arah pembangunan yang akan dilaksanakan, karena akan sangat mempengaruhi keberhasilan pencapaian target dari setiap pilar. Dalam hal ini strategi yang baik adalah strategi yang tidak menitikberatkan pada salah satu aspek atau bahkan pada salah satu indikator, karena dalam pembangunan berkelanjutan setiap memiliki peran masing-masing yang saling berhubungan.


 KESIMPULAN
Pembangunan berkelanjutan tidak mudah, meski demikian bukan berarti tidak dapat dilakukan. Dalam pelaksanaannya banyak hal yang perlu diperhatikan dan saling berkaitan. Makalah ini mencoba menggambarkan hubungan antara indikator persen penduduk di bawah garis kemiskinan, lahan subur dan permanen, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita, dan strategi pembangunan berkelanjutan nasional.
Pengentasan kemiskinan merupakan upaya untuk menurunkan angka persen penduduk di bawah garis kemiskinan. Ini merupakan langkah awal yang harus dilakukan agar pembangunan berkelanjutan dapat dilaksanakan, karena kemiskinan ini berhubungan dengan indikator pembangunan berkelanjutan lainnya yaitu luas lahan subur dan permanen, Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita, dan strategi pembangunan berkelanjutan nasional yang ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA
Apriyantono, Anton. 2008. Cukupkah Lahan Budidaya perikanan Kita. Di unduh tanggal 29 November 2009 Dari http://belida.unmul.ac.id/index.php? Itemid=2&id=81&option=com_content&task=view
Dewan Redaksi. 2009. Indikator Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia. Buletin Tata Ruang Online. Diunduh tanggal 10 Oktober 2009 Dari http://bulletin.penataanruang.net/index.asp?mod=_fullart&idart=123
Direktorat Kelautan dan Perikanan BAPPENAS. Tanpa tahun Di unduh Tanggal 25 November 2009 Dari http___www.bappenas.go.id_get-file-server _node_8201_
Penyusutan Sumber Daya Alam Di unduh Tanggal 28 November 2009 Dari http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1996/09/05/0000.html
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
2005. Catatan Komunitas Indonesia: AGENDA 21 INDONESIA Di unduh tanggal 27 November 2009 Dari http://id-id.facebook.com/note.php?note_id=77300532585