Showing posts with label penyuluh perikanan. Show all posts
Showing posts with label penyuluh perikanan. Show all posts

Saturday, November 5, 2022

THINK GLOBALLY ACT LOCALLY DALAM PENYULUHAN PERIKANAN





Tidak bisa dipungkiri saat ini kita berada di era globalisasi. Era dimana tidak ada lagi batas antara ruang dan waktu. Globalisasi tidak hanya terjadi di negara kita saja tetapi di semua belahan dunia. Proses globalisasi tentu membawa dampak positif dan negatif yang berujung pada perilaku masyarakat sehingga kita harus cerdas memilih dampak yang ditimbulkan agar terhindar dari perilaku buruk. Perubahan perilaku masyarakat terbesar terjadi pada nilai-nilai dan gaya hidup. Saat ini telah terjadi pergeseran nilai-nilai kehidupan yang telah diwariskan oleh leluhur kita terdahulu. Rasa kekeluargaan dan gotong-royong akhir-akhir ini mulai memudar. Masyarakat cenderung hidup individualistis (siapa lu siapa gue) khususnya di kota-kota besar.
Globalisasi pada sektor perikanan menuntut pelaku usaha perikanan harus cepat menangkap semua informasi terkini yang bersifat positif. Informasi tersebut bisa dalam bentuk informasi harga ikan, pakan, cara budidaya ikan yang baik (CBIB), cara pembenihan ikan yang baik (CPIB), ISO, HACCP (Hazard Analysis And Critical Control Points) dalam manajemen mutu produk perikanan, Sustainable Development Goals (SDGs) dalam upaya pelestarian dan pemanfaatan sumber daya samudera, laut dan kelautan untuk pembangunan berkelanjutan dan lain-lain.
Globalisasi menuntut setiap negara memiliki sumber daya manusia yang berkualitas sehingga menghasilkan produktivitas tinggi dan inovasi agar produk yang dihasilkan dapat bersaing dengan negara lain. Globalisasi tidak hanya merubah perilaku masyarakat tetapi juga membawa dampak luas pada berbagai bidang. Pada bidang ekonomi, perikanan Indonesia harus dapat bersaing dengan produk-produk perikanan dari negara lain. Pada bidang sosial, masyarakat perikanan Indonesia juga harus dapat bersosialisasi dengan masyarakat global. Pada bidang lingkungan usaha perikanan harus menjaga keberlanjutan sumber daya alam serta sumberdaya perikanan kelautan beserta dengan ekosistemnnya. Pada bidang teknologi, usaha perikanan Indonesia harus berdasarkan kode etik perikanan yang bertanggung jawab. Pada bidang hukum dan kelembagaan, produk perikanan Indonesia harus tunduk pada aturan – aturan internasional tentang bagaimana mengelola sumber daya supaya lestari, kalau tidak mau di tuduh melakukan IUU (Ilegal unregulated, and Unreportedfishing, termasuk di dalamnya pencurian ikan dan tangkapan yang tidak di laporkan. Hal ini seiring dengan telah diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) pada tahun 2016 ini.
Pemberlakuan pasar bebas ini menyiratkan pentingnya memiliki sumber daya manusia yang memiliki nilai saing tinggi. Ada sebuah ungkapan yang muncul di tengah arus globalisasi yaitu Think globally and act locally. Ungkapan sederhana namun kaya makna. Jika dikaitkan dengan globalisasi, ungkapan ini memiliki pengertian orang yang berpikir global namun dapat melakukannya dalam kegiatan-kegiatan sederhana dengan tidak melupakan budaya atau nilai-nilai asli.  Pelopor ungkapan ini sering dikaitkan dengan seorang perencana kota Skotlandia yang juga seorang aktivis sosial yaitu Patrick Geddes yang lebih menggunakan ungkapan itu dalam bidang lingkungan. Ungkapan ini cocok diterapkan dalam penyuluhan perikanan khususnya dalam menghadapi era global dimana kita sudah mulai meninggalkan nilai-nilai asli (positif) yang diwariskan pendahulu kita.
Masyarakat perikanan harus berpikir jauh ke depan untuk jadi pemenang di era global. Pelaku usaha dan pelaku utama perikanan tentu tidak ingin hanya menjadi penonton di negeri kita dengan sumber daya alam melimpah. Salah satu penerapan dari pemikiran tersebut adalah memiliki kecerdasan intelektual yang baik. Hal itu dapat kita peroleh dengan terus belajar dan up-grade pengetahuan tanpa mengenal usia. Mempelajari hal-hal baru seperti menguasai bahasa asing. Tak dapat dipungkiri bila penguasaan bahasa asing terutama bahasa inggris sebagai bahasa internasional merupakan salah satu keharusan mengingat di era global seperti sekarang kita akan berkomunikasi dengan banyak orang dari penjuru dunia yang menjadikan bahasa inggris sebagai alat komunikasi. Menguasai teknologi informasi juga salah satu aplikasi yang mesti kita terapkan. Alasannya, saat ini kita sudah memakai peralatan kerja atau peralatan lainnya yang telah memakai tenaga mesin atau sistem komputerisasi dan bersifat dinamis.
Disamping itu, rasa nasionalisme menjadi begitu penting di era global karena banyaknya budaya luar termasuk produk yang masuk sehingga kita tetap harus mengenal dan mencintai budaya dan produk buatan negeri sendiri. Sementara saat ini banyak masyarakat yang menerima begitu saja budaya luar tanpa menilai baik-buruknya. Sejalan dengan era globalisasi yang terus bergulir, aturan/norma/ kebudayaan yang baik harus tetap kita jaga dan pelihara supaya tidak terpengaruhi oleh dampak negatif arus globalisasi. Aturan-aturan sosial di masyarakat perikanan yang harus tetap kita jaga seperti larangan bagi nelayan untuk pergi melaut yaitu pada hari Jum’at dengan tujuan selain mengkhusukan waktu beribadah dan istirahat sekaligus juga untuk menjaga kondisi ekosistem perairan supaya tidak terkuras habis setiap  hari. Kebudayaan sasi di Maluku, awig-awig di Lombok Barat, panglima laut di Aceh dan berbagai kebudayaan dalam menjaga kelestarian sumberdaya perikanan di daerah lainnya. Beberapa aturan/norma/ kebudayaan di atas sudah mulai terkikis oleh waktu. Pelaku utama/ pelaku usaha perikanan tidak lagi mengindahkan aturan/norma/ kebudayaan yang telah diwariskan oleh para leluhur terdahulu karena terpengaruh oleh globalisasi. Penerapan lainnya yang tidak kalah penting adalah tidak meninggalkan ajaran agama karena ajaran agama akan menuntun kita untuk berbuat baik dan benar. Jika kita mampu menerapkan itu semua, mewujudkan pelaku utama/ pelaku usaha perikanan yang siap menghadapi era global semakin mudah.
Beberapa tindakan think globally and act locally dalam penyuluhan perikanan adalah :
§  Terus belajar dalam rangka meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pelaku utama/ pelaku usaha perikanan yang memiliki nilai saing tinggi
§  Terus berkarya dan berinovasi dalam menumbuh kembangkan usaha perikanan dalam negeri dengan mengadopsi perkembangan global tanpa meninggalkan khasana lokal 
§  Terus mempelajari hal-hal baru seperti menguasai bahasa asing dan teknologi informasi 
§  Tetap mengenal dan mencintai aturan/norma/ kebudayaan yang baik negeri sendiri dalam menjaga kelestarian sumberdaya perikanan seperti sasi di Maluku, awig-awig di Lombok Barat, panglima laut di Aceh 
§  Melakukan tindakan nyata yang sederhana seperti menanam mangrove di kawasan abrasi, erosi dan kawasan yang sudah mengalami alih fungsi lahan, tidak membuang sampah ke perairan dan tindakan-tindakan positif lainnya untuk menekan pemanasan global (global warming). 
§  Terlibat langsung dalam sosialisasi stop penebangan hutan di kawasan pesisir, cara budidaya ikan yang baik, usaha penangkapan ikan yang bertanggung jawab/lestari dan cara pengolahan mutu hasil perikanan yang standar nasional/internasional.  
Aksi  think globally and act locally dalam penyuluhan perikanan di atas akan memberikan dampak positif bagi pengurangan kemiskinan, pelestarian dan pemanfaatan sumber daya perikanan kelautan untuk pembangunan berkelanjutan seperti yang tertuang dalam SDGs

Friday, April 8, 2022

KANTOR KECAMATAN SEBAGAI RUMAH BERSAMA PENDAMPING DAN PENYULUH

 


Berdasarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI Nomor: 138/1625/SJ tanggal 1 Maret 2021 tetang Penguatan Kecamatan Melalui Pemanfaatan Kantor Kecamatan Sebagai Rumah Bersama Pendamping dan Penyuluh adalah dasar bagi penyuluh perikanan untuk selanjutnya dapat berkoordinasi dengan Camat, penyuluh dan pendamping lain dari Kementerian/Lembaga/Pemda dalam menjalankan tugas di wilayah kerjanya.

Berdasarkan surat edaran ini, penyuluh perikanan diharapkan dapat selalu berkoordinasi untuk mendukung keberhasilan program pemulihan ekonomi nasional. Penyuluh perikanan memiliki peran yang cukup strategis di level bawah (desa dan kelurahan) khusunya dalam pemberdayaan dan pendampingan masyarakat secara umum dan kelompok binaan secara khusus. Disamping itu, kantor kecamatan sebagai rumah bersama diharapkan dapat menciptakan kodusifitas kinerja di lapangan pada masa pandemi covid 19 ini, serta mengoptimalkan fungsi desa dan kelurahan sebagai penyelenggara pemulihan ekonomi.

Pemanfaatan kantor kecamatan sebagai rumaha bersama dilakukan dengan; a) mengatur jadwal koordinasi kegiatan pendampingan dan penyuluhan di tingkat kecamatan; b) melakukan koordinasi untuk keselarasan, keserasian, dan keterpaduan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegitan pendampingan dan penyuluhan di wilayah kecamatan. Kemudian pemerintah (Kementerian/Lembaga/Pemda) malakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan rumah bersama tersebut.

Hal ini tentu sejalan dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan R.I. Nomor KEP.14/MEN/2012 Tentang Pedoman Umum Penumbuhan dan Pengembangan Kelembagaan Pelaku Utama Perikanan, dimana penyuluhan perikanan harus dapat memberikan proses pembelajaran dalam rangka peningkatan kapasitas kemampuan para pelaku utama dan/atau pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan untuk mengorganisasikan  dirinya dalam mengembangkan  bisnis perikanan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya dengan tetap memperhatikan pelestarian  fungsi lingkungan  hidup. Dalam implementasinya, koordinasi dengan pemerintahan dari tingkat terendah sampai ke level pusat harus terus dijalin guna menuju tujuan tersebut.

Pemberdayaan pelaku utama/ usaha perikanan dapat dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha, dan   masyarakat   secara   sinergis   dalam   bentuk penumbuhan iklim dan pengembangan usaha terhadap sektor kelautan dan perikanan sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi usaha yang tangguh    dan    mandiri    bagi    kesejahteraannya    sendiri,    serta    dapat berpartisipasi secara aktif dalam keseluruhan proses pembangunan

Sedangkan pengembangan kelembagaan pelaku utama perikanan dalam hal ini adalah   adalah   upaya mewujudkan kelembagaan pelaku utama yang dinamis, dimana para pelaku utama mempunyai  disiplin, tanggungjawab  dan terampil dalam kerjasama mengelola kegiatan usahanya, serta dalam upaya meningkatkan skala usaha dan  peningkatan  usaha  kearah  yang  lebih  besar  dan  bersifat  komersial, kelompok pelaku utama dikembangkan  melalui kerjasama antar kelompok dengan  membentuk  gabungan  kelompok  perikanan  (Gapokkan),  Asosiasi dan Korporasi.

Mengingat saat ini dimasyarakat telah tumbuh   dan   berkembang   berbagai   kelembagaan   pelaku   utama   perikanan,   tetapi kelembagaan  tersebut  masih  didominasi  oleh  usaha  perikanan  kecil  yang  dikelola masyarakat   secara   tradisional,   lokasinya   tersebar   parsial   dan   kurang   memiliki kompetensi antara satu usaha dengan usaha lainnya, dikelola dengan manajemen yang kurang baik serta sulitnya mengakses  informasi, teknologi dan permodalan dan juga belum terintegrasi dengan baik. Untuk itu diperlukan adanya pembinaan dan pendampingan dari penyuluh perikanan dalam bentuk fasilitasi dan pemberdayaan kelembagaan pelaku utama perikanan melalui pengelolaan dan pembenahan kelembagaan pelaku utama perikanan sehingga diharapkan menjadi sebuah organisasi yang kuat dan mandiri serta mampu mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam pelaksanaan pemberdayaan terhadap kelembagaan pelaku utama perikanan diperlukan adanya kesamaan pengertian, kesamaan gerak, dan kesamaan bahasa pada kondisi dan tempat  yang   berbeda. Oleh karena itulah rumah bersama diharapkan menjadi solusi di masa pandemi covid 19 ini. Mari sama bekerja dan bekerja sama. Maju terus penyuluh perikanan dan pelaku usaha perikanan


Saturday, April 2, 2022

BUDIDAYA KEPITING SOKA

 


Budidaya kepiting soka atau keeping lunak atau dibeberapa tempat dikenal dengan kepiting bakau saat ini banyak dimintai, selain harga jual yang bisa dibilang tinggi, masa pemeliharaan sampai dengan produksi usaha ini juga relatif singkat. Bayangkan saja hanya kurang lebih 15-25 hari kepiting yang sudah ganti kulit (molting) sudah bisa dipanen dan dijual lo.Permintaan kepiting soka juga kian hari kian meningkat, karena rasanya yang lezat berpadu dengan cangkangnya yang lembut dan mudah dibuka membuat kepiting ini menjadi favorit.

Tanpa berpanjang cerita, berikut ini adalah beberapa hal yang perlu anda ketahui dan persiapkan untuk memulai usaha budidaya kepting soka:

1.  Lokasi budidaya

Lokasi yang baik untuk budidaya kepiting soka adalah:

§  Memiliki ketersediaan air yang tidak tercemar oleh polusi, dengan salinitas antara 12-30 ppm

§  Suhu airnya berkisar antara 24 hingga 32 derajat celsius

§  Oksigen terlarut minimal 3 ppm

§  pH airnya 6,5 – 8,5

§  Lokasi yang paling mendekati beberapa syarat di atas adalah kawasan pesisir pantai atau kawasan tambak yang dekat dengan tanaman mangrove. Biasanya tanah tambak yang dipakai adalah tanah yang berlumpur pasir dengan kedalaman sekitar 80 cm atau lebih.

§  Disamping itu, kalau ada diupayakan lokasi dekat dengan sumber bibit dan pemasaran, sehingga dapat mengurangi angka kematian dan kemungkinan2 negatif lainnya

 

2.  Persiapan bibit kepiting soka

Bibit kepiting soka terbaik memiliki bobot sekitar 0,1 ons hingga 0,5 ons, sehat dan tidak cacat. Bibit-bibit inilah nantinyan yang kita besarkan dan lakukan proses molting.

 

3.  Persiapan kandang kepiting soka

Kandang untuk kepiting soka bisa berupa kotak-kotak berukuran 15 x 15 x 20 cm yang diletakkan di bawah permukaan tambak. Buatlah pula jalan setapak yang terbuat dari bambu di antara tatanan kandang-kandang tersebut agar memudahkan anda dalam mengelola dan mengamati kepiting.

 

4.  Pemeliharaan kepiting soka

Bibit soka yang siap untuk dibudidayakan menjadi kepiting lunak kemudian dipotong kaki-kaki serta capitnya, namun jangan lupa sisakan satu kaki renang untuk pegerakan kepiting tersebut kemudian dalam memakan umpan/pakan. Proses ini penting untuk dilakukan agar kepiting menjadi stres dan melepaskan cangkangnya. Saat cangkang dari kepiting tersebut lepas, maka kepiting akan segera membentuk cangkang baru. Proses unik ini disebut dengan molting. 

 

5.  Menenbar bibit kepiting

Proses penebaran bibit kepiting soka tidak boleh dilakukan sembarangan. Kita harus menempatkan tiap kepiting pada kotak atau kandang yang sudah kita buat. Jarak waktu antara proses pemotongan kaki hingga terbentuk cangkang kembali adalah sekitar 15 hari. Perlu diingat, saat cangkang baru sudah mulai terbentuk, Anda harus segera memanen kepiting karena cangkangnya akan kembali mengeras. Untuk menghentikan proses pengerasan cangkang tersebut, Anda bisa merendam kepiting menggunakan air tawar selama 30 menit.

 

6.  Pakan yang diberikan

Kepiting soka biasanya diberi pakan berupa ikan rucah, pelet, atau keong dengan dosisi sekitar 5% dari berat badan-nya. Berikan pakan sekali dalam sehari, atau saat sore menjelang senja. Kepiting merupakan hewan nokturnal yang aktivitas kehidupannya berlangsung di malam hari

 

7.  Perawatan kepiting soka

Merawat kepiting soka kurang lebih sama dengan cara budidaya kepiting rajungan. Yang terpenting adalah kita harus menyediakan air bersih dan terbebas dari polusi, serta memiliki sirkulasi yang lancar. Jika sirkulasi air terhambat, maka kepiting soka akan mati dan membawa kerugian besar. Selain itu, pengendalian hama juga merupakan kunci sukses dalam budidaya kepiting soka. Segera tangani jika Anda melihat gejala kepiting yang terserang hama atau penyakita. Jangan sampai hama tersebut mewabah dan merusak panen Anda.

 

8.  Pemanenan

Kepiting soka dapat dipanen setelah 15-25 hari masa pemeliharaan, pantau setiap saat jikalau sudah ada kepiting yang ganti kulit (molting), maka kepiting tersebut sudah bisa dipanen. Lakukan hal tersebut setiap hari sembari control dan memberi pakan. Pengambilan kepiting yang sudah ganti kulit dapat dilakukan satu jam sesudah ganti kulit atau moulting dengan cara mengambil kepiting soka dari kandang kemudian dimasukan kedalam wadah (ember atau steriofoam) yang berisi air tawar setinggi 10 cm. Adapun tujuan perendaman kepiting soka di air tawar tersebut adalah agar cangkang kepiting tersebut tetap lunak dan tidak mengeras. 1 jam berikutnya bisa langsung di packing dan dibawa ke agen untuk di jual.

 

9.  Pasca Penen

Setelah panen selesai,lakukan perawatan kendang kepitig dengan membersihkannya dari lumut dan mengeringkannya. Hal ini juga berguna untuk menjaga kesterilan kendang untuk tahap berikutnya.

 Simpel dan sederhana ya

Tetapi sebelum anda memulai usaha budidaya kepiting soka, perlu juga anda mengetahui beberapa permasalahan yang dialami oleh para pembudidaya lo, diantaranya: 1) ketersediaan bibit kepiting soka yang sangat terbatas khususnya bibit yang dari alam. Disamping itu, saat proses molting dimulai, kita harus mengawasi selama 24 jam untuk mengetahui kapam cangkang baru tumbuh. Jangan sampai terlalu lama sehingga cangkang kembali mengeras. Itulah alasan mengapa kepiting soka harganya lebih mahal dibanding jenis kepiting lainnya. Untuk 1 kg kepiting soka, bisa dibeli dengan harga Rp. 55.000,00 hingga Rp. 75.000,00.

Agar bisnis budidaya kepiting soka Anda menghasilkan keuntungan yang besar, maka perhatikanlah sejumlah tips berikut ini:

·  Selalu jaga kualitas kepiting soka Anda. Saat panen tiba, pisahkan kepiting soka yang berkualitas tinggi dengan yang berkualitas rendah.

·   Kualitas kepiting tersebut akan menentukan harga jual dari kepiting Anda.  Semakin baik kualitasnya, maka semakin tinggi pula harganya. Begitu pula jika kualitas kepiting yang Anda hasilkan kurang baik, maka kepiting akan ditawar dengan harga renah.

·       Belajarlah dari beberapa pengusaha atau pembudidaya yang telah sukses terlebih dahulu. Jangan menyerah jika di awal usaha Anda menemukan kegagalan, namun justtru jadikan semangat untuk mendapatkan hasil lebih baik lagi di musim depan.

Demikianlah cara budidaya kepiting soka yang dapat kami bagikan Semoga informasi ini bermanfaat dan membantu Anda dalam mengembangkan bisnis budidaya kepiting soka.

Salam penyuluh perikanan

Maju terus dunia perikanan